09/09/2021

Anak Abi

Iya. Dulu, anak ini yang kerap bersembunyi di belakang kaki. Dia yang selalu ingin ikut kemanapun aku pergi. Dia yang selalu saja ingin aku temani.

Termasuk ketika awal-awal masuk sekolah, dia bersikeras ingin selalu didampingi.

Bahkan, anak ini pula lah yang sejak awal mendorongku ke pusaran tulisan.

Membersamai beragam kisah keseharian, kemudian mengikatnya kedalam cerita sederhana.

Iya.. Dia ini yang selalu ingin disebut sebagai anak abi. Dia pula yang selalu ingin dikatakan mirip abi. Pun dia yang acapkali ingin membantu, setiap aku mengerjakan sesuatu.

Maka, membaca novelnya yang berjudul #seratuskalisayanguntukabi, tentu saja memberi haru tersendiri.

Embun di kedua mata ini mencair entah karena apa. Entah lantaran alur ceritanya yang sungguh menyedihkan, atau gegara bangga pada dia yang menuliskan.

Maziya, tetaplah berjuang, nak! Tekuni apa yang kau sukai, tebar kebermanfaatan di seantero bumi.


 

01/09/2021

PO Novel Ziya

Sebuah proses yang sungguh melahap durasi. 
Bertahun-tahun kau jalani dengan emosi yang berfluktuasi.
 
Sedih dan pedih, luka dan duka, menyeret paksa butiran embun di ujung kedua mata.
Sesal dan kecewa, kecil hati dan putus asa, memunculkan pilu yang kian membuatmu tersedu.
 
Bahkan, hampir-hampir saja kau ingin menyerah, hendak menukar cita-citamu dengan yang lebih mudah.
 
Tapi lihat sekarang, nak!
Lihatlah sekarang!
 
Karyamu itu betulan jadi buku, bukan?
 
Dan namamu terpampang jelas di bagian depan. 
Iya, kan?

24/08/2021

Pasti Bisa!

Tak usah cemas, nak.
Jarak hanyalah secuil jeda pada peta.
 

Lihat..
Kita masih terduduk di atas bumi yang sama.
Kita pun masih termenung menatap langit yang sama.
 

Tangis rindumu setiap hari disana,
sama derasnya dengan tangis kami setiap waktu disini.

Bersabarlah.
Sungguh, bersabarlah..

Insya Allah,
isak-sesakmu sekarang,
kan berubah tawa dan lapang di masa depan.
 

Susah-lelahmu sekarang,
kan berbayar senang dan bangga ketika dewasa.

Maka berjuanglah, nak.
Kau pasti bisa melewati semuanya.

Kau pasti bisa.