Di suatu malam yang kian temaram..
“Jadi, Kau dengar apa
kataku tadi? Aku akan mengizinkanmu, dengan syarat Kau membawakanku tiga
benda legenda. Satu, Mutiara Hitam dari Laut Selatan. Dua, Tanduk Rusa
Emas dari hutan pedalaman. Dan Tiga, Dahan Gelap Aquilaria dari Tubir
Asfar, kata Raja” Aku menarik nafas sebentar, kemudian melanjutkan
membaca draft tulisan pada layar.
“Ikal menelan ludah merasa
gentar, dua matanya menatap Sang Raja dengan setengah kesal. Bagaimana
mungkin Ia bisa mendapat benda-benda legenda itu? Nama-namanya saja baru
kali ini Ia mendengarnya. Atau mungkin Raja Awandra hanya berkata
sembarang, sebuah langkah jitu untuk mematahkan harapan” kataku,
kemudian menghela nafas panjang.
“Nah, udah dulu ya ceritanya..” pungkasku, sembari menutup program Microsoft Word, lalu bersiap mematikan Laptop.
“Yaah… Terusin dulu atuh Abii!!” kata Zahdan, merajuk.
“Iya Abi, terusin dulu.. Ziya juga da belum tidur!” Ziya mendukung adiknya.
Aku tentu saja harus menggeleng, jam tidur anak-anak ini sudah terlewat
setengah jam. Lagipula, ada alasan lain yang membuatku tak bisa
meneruskan membaca cerita.
“Aduuh, ceritanya belum selesai,
Zahdan. Abi baru ngetik sampai bab sembilan yang ini, masih mikir-mikir
gimana kelanjutan ceritanya. Nanti deh, kalau sudah ada, Abi bacain
lagi. Ya?” kataku.
Ziya dan Zahdan mengucap ‘Yaah’ hampir
bersamaan. Ziya yang sudah lebih dewasa, mengangguk tanda mengerti,
membaca do’a sebelum tidur, lalu langsung merapatkan selimut. Tidur
miring ke sisi kanan.
Sedangkan Zahdan, entah karena masih penasaran, tergelitik untuk kembali bertanya.
“Abi, Raja Awandra itu teh jahat ya? Terus nanti Ikalnya gimana?”
tanyanya, tak peduli padaku yang sudah mengucek mata menahan kantuk.
“Iya Zahdaaan.. Nanti aja Zahdan denger lagi ceritanya. Udah ah,
sekarang mah Zahdannya tidur dulu. Besok-besok kalau Zahdan udah bisa
baca, pasti bakal seru. Kayak Ka Ziya tuh, sering asyik sendiri baca
buku KKPK. Nah, Zahdan juga, nanti pilih buku cerita mana saja yang ada
di rak, terus langsung dibaca sendiri, ga usah nunggu Abi buat bacain.
Cerita tentang astronot, tentang planet, semua kan ada” ucapku.
Zahdan tersenyum, melafalkan do’a sebelum tidur, lalu ikut memejamkan
mata sembari merapatkan selimut, entah apa yang akan dimimpikannya.
…
Benar, hingga Zahdan menginjak usia keenamnya, Aku memang tak pernah
khusus mengajarinya membaca. Aku hanya menyodorinya buku-buku,
menawarinya membeli buku, serta menyediakan wadah khusus untuk buku-buku
miliknya. Wadah yang berbeda dengan tempat menyimpan mainan-mainannya.
Dulu, Zahdan kecil sering terduduk di pangkuan, lalu kubacakan teks
cerita sembari menunjuk gambar-gambar yang tertera. Ia akan berceloteh
‘bah..bah..’ tanpa kumengerti apa maksudnya.
Termasuk kartu baca
balita. Rasa-rasanya Aku tak pernah sekalipun mengkhususkan waktu bagi
Zahdan belajar tentangnya. Mengeja suku kata, atau bernyanyi
‘ba-bi-bu-be-bo’, semua dijalani Zahdan apa adanya.
Adakalanya, Zahdan berkata sok tahu, kala Ia melihat sebuah spanduk mencolok yang dipasang di depan sebuah rumah.
“Abi, rumah yang itu teh pasti dijual ya!” tebaknya, begitu yakin.
Mungkin karena dulu Aku pernah memberitahunya saat Ia bertanya hal yang
sama tentang rumah yang berbeda.
“Mana? Ooh.. yang itu. Bukan Nak, rumah yang itu mah bukan dijual, tapi dikontrakan” jawabku, sembari terkekeh.
Zahdan mengernyit tak mengerti. Padahal spanduknya sama persis, warna dan ukuran hurufnya pun mirip, kenapa bisa berbeda.
Dan percakapan selanjutnya membahas tentang apa itu ‘dikontrakan’. Aku
sebisa mungkin memilih kata-kata yang bisa dimengerti oleh anak
seusianya.
…
Beberapa waktu kemudian, ketika Aku mengajaknya membeli jajanan, Zahdan tiba-tiba saja berkata sendiri..
“Par.. Kir.. Mo.. Tor.. Ma.. Sih.. Ko.. Song.., Abi!! Disana itu tempat
parkir motor ya?” tanyanya, sembari mengarahkan wajahnya ke arah sebuah
toko.
Sontak Aku terperanjat. Alih-alih menjawab, Aku malah bertanya balik.
“Ha? Zahdan udah bisa baca??” tanyaku, tak percaya.
Yang ditanya hanya terkekeh sambil mengangguk bangga.
“Coba.. coba.. baca yang ini..!” kataku, menunjukkan bagian depan kaos yang tengah kukenakan.
“Em.. Tehe.. Gre.. Aaa.. Tes.. Ta.. Uuu.. Hid..!” kata Zahdan.
Lagi, Aku harus menggelengkan kepala tak percaya. Anak kecil berponi ini ternyata sudah bisa membaca tanpa kuduga.
Boleh jadi, Zahdan sudah diajari gurunya di sekolah, meski Ia nyata-nyata tak pernah membawa buku mengeja ke rumah.
Jumlah durasi sekolahnya pun sangat-sangat terbatas, tak lebih dari
empat jam waktunya. Ditambah dengan tingkat ketidakhadiran Zahdan yang
tinggi, serta diinterupsi dengan periode bermain Zahdan yang unlimited,
ternyata eh ternyata.. Zahdan bisa cepat juga belajar membaca.
Kau memang hebat, Nak..
Lain waktu, Kau bisa membaca sendiri kelanjutan cerita Raja Awandra di laptop ini. He..
07/09/2019
Sahabat Terbaik Zahdan
Dulu, di perumahan ini Ziya memiliki sebuah geng, ASiMa namanya.
Singkatan dari nama-nama mereka sendiri, yakni Armida, Silmy, dan
Maziya. Trio yang pernah didaulat untuk mengurusi Taman Baca Mumtaza.
Berbagi tugas melayani anak-anak yang hendak membaca atau meminjam buku.
Selama beberapa waktu, ASiMa memang selalu bersama kemanapun juga. Membeli makanan ke warung bertiga, pergi ke mesjid bersama-sama, serta bermain di taman dengan kompaknya. Mereka akan memilih menunggu jika salah seorang belumlah tiba.
Istilah 'no one left behind' benar-benar mereka terapkan.
Tak cukup, mereka mengenakan pula baju yang senada. Ditambahi dengan memakai pernak pernik yang nyaris tak ada beda. Bolpoin dan dompet, kertas binder, ataupun bros cantik yang disematkan di kerudung. Dan tatkala seorang darinya lupa tak memakai bros, maka dua lainnyapun akan kompak melepas bros.
Prinsip 'one for all, all for one', sungguh-sungguh mereka jalankan.
Sayangnya, geng ini terpaksa berhenti karena kepindahan Silmy. Tempat tinggalnya kini jauh berkilo-kilo meter dari komplek ini. Terang saja Ziya dan Armida berduka, Taman Baca pun ditutup sementara.
Meski demikian, Ziya masih suka menulis cerita tentang mereka bertiga. Ia pun beberapa kali mengirim kado dan menitipkan surat. Ziya sering berkata bahwa Silmy adalah sahabatnya.
Seorang sahabat terbaik yang pernah Ia punya.
Dan hei..! Kata-kata itu ternyata terdengar oleh Zahdan kecil. Walau belum mengerti benar apa arti sahabat, Zahdan tetap tak mau kalah. Ia ingin punya sahabat seperti kakaknya.
Sesuatu yang tampaknya mudah saja bagi Zahdan, lantaran di sekitarnya banyak anak yang mau berkawan. Zahdan tinggal pilih seorang, lalu.. Abrakadabra! Jadilah Zahdan punya sahabat.
Bagai cepu dengan tudungnya, pilihan Zahdan ternyata jatuh pada anak bernama Mikel, adik dari Silmy sendiri. Dulu, Zahdan kecil memang sering bermain bersamanya. Meski tak sampai pada tahap membuat geng, atau kompak memakai bros yang sama.
Kepindahan Silmy, artinya sama dengan kepindahan Mikel. Zahdan kerap 'ikut-ikutan' menulis surat, padahal membaca saja Ia belum bisa. Setelah menggoreskan pensil disana sini, Ia meminta tolong diejakan kata, 'teruntuk.. sahabat terbaikku'.
Aih, ada-ada saja anak kecil berponi ini!
Terkadang, Zahdan bahkan terlihat duduk menatap jendela sembari memegang fotonya bersama Mikel. Dengan segurat bibir yang tertekuk, ditambah dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Zahdan kemudian lirih berkata..
'Zahdan kangen sama Mikel..' ucapnya, hanya sedetik sebelum pecah tangisnya.
Entah karena Ia kangen betulan, entah lantaran hanya ingin diperhatikan. Buktinya, ketika tiba-tiba ada Byaz dan Jamil -teman lain- datang, mengajak bermain robot dan mobil-mobilan, Zahdan seketika saja menjadi riang. Berlari-lari keluar rumah sembari menenteng mainan. Meninggalkan foto yang semula dipegang tergeletak sembarang.
Lagi-lagi, Aih.. Ada-ada saja anak ini!
Selama beberapa waktu, ASiMa memang selalu bersama kemanapun juga. Membeli makanan ke warung bertiga, pergi ke mesjid bersama-sama, serta bermain di taman dengan kompaknya. Mereka akan memilih menunggu jika salah seorang belumlah tiba.
Istilah 'no one left behind' benar-benar mereka terapkan.
Tak cukup, mereka mengenakan pula baju yang senada. Ditambahi dengan memakai pernak pernik yang nyaris tak ada beda. Bolpoin dan dompet, kertas binder, ataupun bros cantik yang disematkan di kerudung. Dan tatkala seorang darinya lupa tak memakai bros, maka dua lainnyapun akan kompak melepas bros.
Prinsip 'one for all, all for one', sungguh-sungguh mereka jalankan.
Sayangnya, geng ini terpaksa berhenti karena kepindahan Silmy. Tempat tinggalnya kini jauh berkilo-kilo meter dari komplek ini. Terang saja Ziya dan Armida berduka, Taman Baca pun ditutup sementara.
Meski demikian, Ziya masih suka menulis cerita tentang mereka bertiga. Ia pun beberapa kali mengirim kado dan menitipkan surat. Ziya sering berkata bahwa Silmy adalah sahabatnya.
Seorang sahabat terbaik yang pernah Ia punya.
Dan hei..! Kata-kata itu ternyata terdengar oleh Zahdan kecil. Walau belum mengerti benar apa arti sahabat, Zahdan tetap tak mau kalah. Ia ingin punya sahabat seperti kakaknya.
Sesuatu yang tampaknya mudah saja bagi Zahdan, lantaran di sekitarnya banyak anak yang mau berkawan. Zahdan tinggal pilih seorang, lalu.. Abrakadabra! Jadilah Zahdan punya sahabat.
Bagai cepu dengan tudungnya, pilihan Zahdan ternyata jatuh pada anak bernama Mikel, adik dari Silmy sendiri. Dulu, Zahdan kecil memang sering bermain bersamanya. Meski tak sampai pada tahap membuat geng, atau kompak memakai bros yang sama.
Kepindahan Silmy, artinya sama dengan kepindahan Mikel. Zahdan kerap 'ikut-ikutan' menulis surat, padahal membaca saja Ia belum bisa. Setelah menggoreskan pensil disana sini, Ia meminta tolong diejakan kata, 'teruntuk.. sahabat terbaikku'.
Aih, ada-ada saja anak kecil berponi ini!
Terkadang, Zahdan bahkan terlihat duduk menatap jendela sembari memegang fotonya bersama Mikel. Dengan segurat bibir yang tertekuk, ditambah dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Zahdan kemudian lirih berkata..
'Zahdan kangen sama Mikel..' ucapnya, hanya sedetik sebelum pecah tangisnya.
Entah karena Ia kangen betulan, entah lantaran hanya ingin diperhatikan. Buktinya, ketika tiba-tiba ada Byaz dan Jamil -teman lain- datang, mengajak bermain robot dan mobil-mobilan, Zahdan seketika saja menjadi riang. Berlari-lari keluar rumah sembari menenteng mainan. Meninggalkan foto yang semula dipegang tergeletak sembarang.
Lagi-lagi, Aih.. Ada-ada saja anak ini!
27/08/2019
Iya, Kamu.
Duhai, apa gerangan yang dulu ada di benakmu?
Apa sesungguhnya yang membuatmu menerima pinanganku?
Bukankah Kau tahu, Aku hanyalah manusia yang penuh dengan kekurangan?
Dari mulai rupa maupun ilmu, akhlak ataupun sikap, tiada satupun yang bisa dikatakan hebat.
Aku tak ada bedanya dengan manusia rata-rata yang ada didunia.
Apa gerangan yang dulu ada di benakmu?
Bukankah mereka yang pernah Kau kenal, jauh lebih cerdas dan berprestasi tinggi?
IPK istimewa, santun dalam berkata-kata, dipandang mulia oleh seantero kota.
Tidakkah Kau akan lebih sekufu dengan salah satu diantaranya?
Apa alasanmu?
Padahal, jika bersanding denganku, kita tak ubahnya seperti langit dan bumi.
Kau adalah langitnya, dan Aku adalah lapisan bawah tanahnya.
Jika bersama denganku, Kita serona Mawar dan sejumput rumput.
Kau semerbak indah wanginya, sedang Aku dedaunan kecilnya.
Duhai, Apa yang sesungguhnya membuatmu menerima pinanganku?
Tidakkah Kau tahu? Persetujuanmu dulu itu membuatku bahagia setengah mati.
Teramat tak percaya diberi hati oleh seorang Bidadari.
Lebih tak percaya lagi kala berakad mengikat janji.
Sungguh, ibarat mimpi.
Mimpi terindah yang pernah kualami.
Apa gerangan yang ada di benakmu?
Tidakkah Kau tahu?
Andai hari esok tiada lagi, bagiku hanya engkaulah Sang Permaisuri.
Kau yang telah berjuang sekuat tenaga demi keluarga.
Dan Kau yang telah mempertaruhkan nyawa demi buah hati tercinta.
Duhai,
Andai raga ini lenyap dimakan renta.
Dan andai jatah usia sudah tak tersisa.
Rinduku padamu tak akan berhenti begitu saja.
Cintaku padamu ‘kan tetap melangit menembus angkasa.
Iya, Kamu..
Whindy Widhiyanti Senjaya.
Apa sesungguhnya yang membuatmu menerima pinanganku?
Bukankah Kau tahu, Aku hanyalah manusia yang penuh dengan kekurangan?
Dari mulai rupa maupun ilmu, akhlak ataupun sikap, tiada satupun yang bisa dikatakan hebat.
Aku tak ada bedanya dengan manusia rata-rata yang ada didunia.
Apa gerangan yang dulu ada di benakmu?
Bukankah mereka yang pernah Kau kenal, jauh lebih cerdas dan berprestasi tinggi?
IPK istimewa, santun dalam berkata-kata, dipandang mulia oleh seantero kota.
Tidakkah Kau akan lebih sekufu dengan salah satu diantaranya?
Apa alasanmu?
Padahal, jika bersanding denganku, kita tak ubahnya seperti langit dan bumi.
Kau adalah langitnya, dan Aku adalah lapisan bawah tanahnya.
Jika bersama denganku, Kita serona Mawar dan sejumput rumput.
Kau semerbak indah wanginya, sedang Aku dedaunan kecilnya.
Duhai, Apa yang sesungguhnya membuatmu menerima pinanganku?
Tidakkah Kau tahu? Persetujuanmu dulu itu membuatku bahagia setengah mati.
Teramat tak percaya diberi hati oleh seorang Bidadari.
Lebih tak percaya lagi kala berakad mengikat janji.
Sungguh, ibarat mimpi.
Mimpi terindah yang pernah kualami.
Apa gerangan yang ada di benakmu?
Tidakkah Kau tahu?
Andai hari esok tiada lagi, bagiku hanya engkaulah Sang Permaisuri.
Kau yang telah berjuang sekuat tenaga demi keluarga.
Dan Kau yang telah mempertaruhkan nyawa demi buah hati tercinta.
Duhai,
Andai raga ini lenyap dimakan renta.
Dan andai jatah usia sudah tak tersisa.
Rinduku padamu tak akan berhenti begitu saja.
Cintaku padamu ‘kan tetap melangit menembus angkasa.
Iya, Kamu..
Whindy Widhiyanti Senjaya.
Subscribe to:
Posts (Atom)

