17/03/2024

Ramadhan 2024M

 

Wangi Ramadhan sudah semerbak, manisnya iman pun kian menyeruak.
Segumpal kalbu menjadi sejuk seperti salju,
lembut menghias ulu, manis mengikis pilu.
Namun tatkala beranjak ke kelopak mata..
tetiba saja meleleh menanggung rindu.
 
Rindu pada Allah Sang Maha Pencipta..
 
Dan rindu pada Muhammad Sang Baginda tercinta..
 
Maka sungguh beruntung kita yang dianugerahi sehat di bulan mulia.
Yang lambungnya tak menggerutu gegara puasa.
Atau yang ketika sujud, nyeri menusuk tak gencar menjalari kepala.
 
Sungguh..
Sungguh beruntung kita yang masih bisa makan sahur dan berbuka.
Tak seperti saudara seiman kita di palestina.
 
Yang mesti menunggu-nunggu bantuan dulu.
Yang mesti rumahnya dihancur leburkan dulu.
Yang mesti darah dan nyawanya dipertaruhkan dahulu.
Dibawah bombardir kaum terlaknat yang hobi memicu seteru.
 
Ramadhan sungguh bulan yang mulia.
Sedang Palestina, sungguh tanahnya para anbiya.
 
Insya Allah dengan sungguh yang sama,
kita langitkan do'a beserta upaya,
 
semoga Palestina merdeka segera.
 
Aamiin.
 

 

27/02/2024

Baik-baik saja

Wahai kaca di pelupuk mata, 

apa gerangan kabarmu sekarang?

Masihkah embun dan hujan membuatmu berlinang?
 
Atau masihkah harap dan bayang memburamkan pandang?
 
 
Kala rutin melukis remang pada awan yang tertumpah.
Saat membias mendung pada senja yang tercurah.
 
Katakan..
Katakanlah..
 
Bukankah pada langit yang kelabu, 
rasamu justru lebam membiru?
Apalagi pada sosok di masa lalu, 
hatimu kerap dingin dan membeku.
 
Tetapi biarlah..
 
Karena ajaibnya, setelah semua itu berlalu,
waktu selalu berkata bahwa,
 
kau akan baik-baik saja.
 

 

11/02/2024

Belum

Belum..

Belum waktunya kita mengistirahatkan pundak.

Belum waktunya kita melepaskan penat.

Karena ada sekepal bara yang harus digenggam erat.

Ada sederet generasi yang harus dinyalakan sangat.

 

Aku tahu,

pastilah terasa jeri.

Harus terseok tertatih-tatih,

banjir keringat mendulang letih.

 

Lelah.. bangkit lagi!

Jatuh.. melangkah lagi!

Terus bergerak,

Melulu bergerak..

meski raga terasa sudah terkoyak.

 

Untuk apa?

Balasannya tiada sepadan, bukan?

 

Apalagi jika diperbandingkan dengan dunia yang melenakan.

Sungguh.. tak akan sepadan!

 

Namun,

bagaimana bila ikhtiar kita,

upaya dan jerih payah kita,

hanya demi Robb semesta alam?

 

Hanya demi bisa merebut cinta,

dari Dzat Yang luas cintaNya tiada terbilang.

 

Dan hanya demi sebuah pembuktikan,

bahwa kita ingin..

Kita teramat ingin,

curahan ridho berikut Rohman-RohimNya?

 

Jika benar demikian,

maka sungguh..

Jalan ini kan tetap kita tempuh,

walau jiwa tak lagi utuh.