28/01/2017

Izinkan Kami Menikah

Aneh memang.. Aku melebam pilu karenamu, dan kau justru terluka olehnya. 
Seolah cinta tak pernah bermakna,  melainkan berisi duri semata. 
Membuat kita terseok dan terlunta, lalu terhempas di curam tebingnya. 
Kita tergores di kanan kiri, berdarah di sana sini. 
Merasakan pedih.. 
Dan begitu bersedih.

Aneh memang.. Aku terisak pilu olehmu, dan kau sesak justru karena merinduinya. 
Seolah cinta masih tak jua bermakna, melainkan hanya panas api yg mengelilinginya. 
Kita tercakar dan terbakar,  menghitam lalu melegam, menyeret kaki tuk berusaha lewati. 
Hingga hati merasa nyeri. 
Dan kita.. 
Urung berjalan lagi..

Tidak.. tak boleh ada ucap menyerah. 
Sedalam apa luka didalam dada, 
sepanjang apa jeri didalam hati, 
tetaplah kita bergerak langkahkan kaki. 
Karena janji-janji bahagia, di ujung sana terukir indah. 
Cawan-cawan dahaga, terhidang disana hapuskan lelah. 

Tak boleh ada ucap menyerah. 
Boleh terisak, namun tetaplah merangkak. 
Boleh kecewa, namun pantanglah berputus asa. 
Songsong janji-janji bahagia itu. 
Wujudkan mimpi-mimpi indah itu. 
Dan belajarlah dari kisah-kisah itu. 
Tentu saja, kisah-kisah terindah.. 
dalam buku "Ya Allah Izinkan Kami Menikah"

21/12/2016

Aleppo..

Dunia.. Kau ini kenapa?
Usiamu renta, tapi sejarahmu dipenuhi luka.
Belum mengering darah palestin, kembali bersimbah merah suriah.
Belum lupa siksa di tanah rohingnya, kini aleppo rata dengan tanah.
Sembunyikan potongan tubuh anak-anak dan bayi yang masih merah.

Apa.. Apa yg terjadi denganmu wahai dunia?
Tidakkah kau dengar teriakan ayah yg membawa jasad anaknya,
dalam potongan kain yg tak henti bercucuran darah.
Tidakkah kau lihat bayi tenggelam dalam tangisan.
Bukan.. bukan lantaran ia lapar dan kehausan. 
Melainkan karena ususnya yang terburai berantakan 
serta tangan kakinya remuk tertimpa bangunan. 
Tidakkah kau lihat itu semua? 
Tidakkah kau dengar itu semua?
Sampai kapan lagi darah muslim terus membanjiri tanah? 

Sampai kapan lagi kelaliman terus menindas yg lemah?
 

Mengapa? 
Bukankah mereka yang terluka adalah yang tak pernah lupa sholatnya? 
Mereka yang disiksa adalah yang sentiasa bertakbir dan bertahmid padaNya?
Astaghfirullaah.. 


Ya Allah.. Turunkan ribuan malaikatMu Ya Robb! 

Tenggelamkan mereka yg berbuat kezhaliman di tanah rohingnya, 
seperti Qarun yg di telan bumi karena pongahnya! 
Binasakan mereka yg meratakan aleppo, 
seperti binasanya firaun dan bala tentaranya! 
Tumbangkan mereka yg melindungi si penista, 
seperti tumbangnya namrudz yang disusupi nyamuk kedalam otaknya. 
Hancurkan manusia-manusia keji itu Ya Aziz.. 
Luluh lantakkan pasukan tak berhati itu Ya Robb.. 
Dan azab muslim-muslim pengkhianat itu Ya Allah.. 
Mereka yang mengaku muslim, namun mencari perlindungan pada orang-orang kafir. 
Mereka yang lidahnya melafalkan tauhid, namun di hati mereka melekat kuat palu dan arit.

Dunia.. Kau ini kenapa? 

Hentikan kezhaliman mereka..
hentikan fitnah-fitnah mereka.. 
Tinggikan kebenaran, melampaui fakta yang mereka putarbalikan. 
Tinggikan keadilan, melampaui berita yang mereka sembunyi-sembunyikan.
Kami memohon padaMu Ya Allah.

Lindungi seluruh muslim-muslim yang tengah difitnah dan dizholimi di seluruh dunia ini. 
Aamiin..

Taman Baca Mumtaza

Bermula dari satu dua tetangga yang datang ke rumah, hendak pinjam buku katanya. Aku mempersilahkan saja. Buku-buku itu lebih bermanfaat dipinjam ketimbang teronggok begitu saja di rak. Waktu berjalan, aku pun kelupaan. Kebingungan ketika ditanya, dulu siapa yah yang pinjam buku A? Siapa yah yang bawa novel B? Aku menghela nafas, menatap isi rak yg terlihat lengang. Catat mencatat harus diterapkan.. Itu yang kufikirkan.

Berawal dari obrolan sederhana. Dengan Maziya, sang anak pertama. Jika punya taman baca, hendak diberi nama apa. Deretan nama tokoh KKPK dan komik pun meluncur dari mulutnya, tak ketinggalan nama-nama indah teman-teman di sekolahnya. Aku menghela nafas, menatap binar semangat di hitam bola matanya. Taman baca mumtaza.. Itu saranku padanya.

Dan, ziya pun bergerak bersama dua kawannya. Menjejerkan buku-buku di meja tamu. Lengkap dengan kasir mainan, dan receh kembalian dari celengan. Sebuah kertas ditempel sederhana di kaca. "taman baca mumtaza", pinjam pertama tanpa biaya, kali kedua seribu rupiah saja, gratis bros lucu pula. Tak cukup sampai disana, bertiga mereka berkeliling menawarkan taman bacanya. "taman baca mumtaza! Ada di rumah ziya!" teriaknya. Alhasil bergerombollah anak-anak tetangga, ramai meminjam buku satu dua. Aku menghela nafas memandangnya, mereka perlu dukungan lebih serius tampaknya.


Kemudian, ruang tamupun dihilangkan. Rak dan buku-buku ditempatkan. Ziya terlihat senang bukan kepalang. Hadiah-hadiah disiapkan. Berikut aplikasi pencatatan, dan kartu anggota yg tak boleh kelupaan. Maziya, armida, dan silmy. Duduk di atas kursi kecil yg dibariskan. 

Ah, andai saja ada naysila, tokoh-tokoh tiga puteri akan selengkap dalam cerita.
 

Akhirnya, Taman baca mumtaza resmi berada. Dengan buku-buku yg masih berupaya dilengkapi lagi koleksinya. Daftar anggota gratis. Baca di taman baca gratis. Mudah-mudahan bisa sedikit menjadi penawar dahaga bagi para pecinta baca. 

Jadi, tak perlu ragu.. Kunjungan anda kami tunggu. He..

#TamanBacaMumtaza