07/05/2023

Tanam !

Wahai diri..
Seonggok tanah di atas bumi.
 
Pemikul dosa yang menggunung tinggi.
Pengucap taubat yang tak dari hati.
 
Pemilik sholat yang alakadarnya,
sekedar sujud lalu berdiri,
hingga komat-kamit membaca, tanpa ada usaha untuk mengerti.
 
Sadarkah, kau?
Bukankah ragamu bertambah hari bertambah renta.
Sehatmu terus berkurang digerus usia.
 
Dan kiamat kecil itu..
sungguh nyata berada di depan mata.
 
Jauh-jauh hari, Habibi telah memerintahkan,
tanamlah biji kurma dalam genggaman.
 
Tanam!
 
Betapapun hanya itu yang kau punya.
Sungguhpun hanya itu yang kau bisa.
 
Tanam!
 
Biarpun tak ada yang memedulikan.
Ataupun tajamnya pedang mengancam keselamatan.
 
Terus tanamlah!
 
Karena sejatinya kita semua akan kembali.
Jauh meninggalkan bumi,
menunggu diadili oleh Dzat Yang Maha Suci.
 
Semoga kurma ini, bisa menjadi pemberat di yaumil hisab nanti.
 

 

24/04/2023

Lebaran

Aku tak tahu..

Mau lebaran jum'at, ataukah sabtu.
Karena hal yang berkecamuk bagiku, bukanlah itu.
 
Lebaran.. Rasa-rasanya, keistimewaan momen ini sudah lama menghilang.
Bertahun-tahun dihabiskan, dalam perantauan dan pekerjaan.
Membuatku lupa, seperti apa lebaran di tanah kelahiran.
 
Aku benar-benar tak tahu..
Yang jelas, jalanan yang kulalui terlihat sepi.
Toko-toko tutup di kanan dan kiri.
Sedangkan rumah-rumah, tampak ramai dikunjungi sanak famili.
Memakai baju baru khas lebaran,
berbaris bersalam-salaman,
hingga tertawa-tawa berebut opor ayam.
 
Kepala pun lekas kupalingkan,
keberadaan diri segera kusembunyikan.
Termasuk hati yang berbisik iri, 
kubenamkan dalam sekali.
 
Hmft.. Aku sungguh tak tahu..
Setiap tahun perasaan hampa rutin mengemuka.
Menyayat hati setiap lebaran tiba.
 
Entah karena Ramadhan yang terlalu cepat pergi.
Atau karena momen lama yang tak pernah kudapati lagi.
 

 

28/03/2023

Lorong Waktu

Hati-hati, nak!
 
Pak Bram pernah berkata, bahwa lorong itu berbahaya.
Kendati sudah nyata dipasangi bata dan pintu kaca, 
serta ditutup dinding permanen di ujung satunya, 
menurutku tempat ini tetap saja berbahaya.
 
Lihatlah, berdiri di depannya saja, sukses menyibak kenangan berpuluh tahun ke belakang. 
 
Saat ketika duduk-duduk santai bersama kawan, atau ketika merenungi panjang tentang masa depan.
 
Belum lagi ketika menyeret kaki melenggang pergi, tatkala separuh hati menggeleng melarang kembali.
 
Ya.. Lorong ini dulu memang menghubungkan dua tempat. 
Tetapi sebenarnya memisahkan pula dua tekad.
 
Tekad untuk tetap setia dan bertahan. 
Serta tekad untuk pergi dan meninggalkan.
#MazhiraMutsbitaMumtazahAthfi
#LorongWaktudiSMK1