22/01/2023

Mumtaza

Mumtaza. 
Ya, nama seorang putri dari dunia fiksi. Sebetulnya bukan sepenuhnya fiksi, karena Putri yang ini kuadaptasi dari Maziya, si anak pertama.

Perasa kah? Memang.
 
Jauh sebelum anak itu dites sidik jari, karakter perasa memang sudah terlihat sedari kecilnya. Tak ingin menyakiti, berimajinasi tinggi, sampai yang paling mengerti, ketika abinya ini belum mendapat gaji. He..
 
Setelah dites, benar saja.. Ziya termasuk tipe feeling, seorang yang memiliki kemampuan berbicara dengan 'rasa'.
 
Ah, lihat saja quotes-quotesnya, tulisan-tulisannya, puisi-puisinya, bahkan novel karyanya. Rata-rata berkisah tentang perasaan, yang lumrah dimiliki semua orang. Maka tak heran, jika ziya kerap menjadi tempat curhat beberapa kawan.
 
Tokoh putri mumtaza, dulu diimajinasikan berusia belasan. Sama dengan usia ziya di masa sekarang. 
 
Bedanya, tentu saja kekuatan pengendali angin. Ziya tak bisa menciptakan sepoi seperti putri mumtaza. 
Atau bahkan membuat topan sebagai wujud marahnya. Entahlah, apa anak itu masih suka berlama-lama di atas pohon? Akrab bersenda renyah bersama angin, atau bahkan lirih bersenandika bersama jiwa. 
 
Putri Mumtaza, maupun Maziya si anak pertama. Aku yakin keduanya memiliki sisi baik yang sama.

27/12/2022

Securah Rindu

Ada kaca yang tertahan, tatkala meninggalkannya yang tengah berjuang.
 
Bagaimana tidak? Ini adalah kali pertama terjarak sekian jeda. Membuat senandika berkata niscaya, 
 
'apakah dia bisa?'
 
'Apa dia sungguh akan baik-baik saja?
 
 
Hmft..
Kau tahu, kawan?
 
Dialah yang seringkali mengiringi di setiap langkah,
dia yang kerapkali membersamai di setiap lelah,
 
Dan dia yang selalu hadir membawa ceria, menghibur kami kala penat terasa.
 
Dia pula yang suka memberi teka-teki ensiklopedi, atau menghafal materi sambil lucu bernyanyi-nyanyi.
 
Dalam keseharian, dialah yang hobi menjadi pendamai di antara kawan. Pun dia yang gemar menolong sesiapa saja yang meminta bantuan.
 
Lihatlah sandal-sandal di mesjid itu, dialah anak yang rutin membereskan. Sampah-sampah plastik di jalan itu, dia jualah anak yang terbiasa memungut lalu membuang.
 
Maka, terus terang.. Adanya bentangan jarak, telah sempurna mencipta sesak. Serupa sesak yang berulang kali dia rasa setiap asmanya hinggap.
 
Dan terus terang.. Tak bisa langsung melihatmu, sungguh membuat hati ini terasa kelu.
 
Terlampau rindu ingin bertemu, untuk sekedar lembut mengelus kepala, atau usil menggelitiki hingga tertawa-tawa.
...
 
Wahai, anak kecil berponi. Berjuanglah terus sekuat hati. 
Ikhlaslah terus menghafal ayat-ayat suci.
Kemudian raihlah derajat yang tertinggi,
 
menjadi muslim sejati,
 
yang berakhlak Qur'ani.
 
Aamiin..

Gebyar Kreospora

 Sorot cahaya lampu, melintas berwarna warni.

Syair-syair bahasa ibu, bergema menggetarkan hati. 

Anak-anak kecil nan lucu, berdendang lincah menari-nari.
 
Ah, tak henti-henti diri ini berdecak, melihat debur haru laksana ombak.
Surut haru yang satu, datang haru yang lain.
Habis takjub yang satu, mengemuka takjub yang lain.
 
Terus berulang, di setiap penampilan.
 
Seolah ada berlimpah kisah yang ingin diceritakan.
 
Tentang adat dan budaya,
 
tentang bumi dan buana,
 
hingga tentang mimpi dan cita-cita.
 
Lihatlah!
Beragam karya terpajang nyata tak terbantahkan.
 
Kreasi-kreasi dikara, imbas kukuhnya simpul paguyuban.
 
Santun menyanggah segala kecam dan fitnah.
 
Lembut menggubah mimpi dan amanah.
 
Kawan, sungguh!
Di ruangan ini ada banyak sekali hikmah berpetuah.
Lebih banyak lagi faedah serta anugerah.
 
Maka biarkanlah petuah-petuah itu datang dan merasuki.
 
Biarkan hikmah-hikmah itu hinggap dan mempengaruhi.
 
Terpatri di ceruk hati, lalu melangitkan puji pada Sang Maha Suci.
 
Karena lompatan ini, murni anugerah dari Sang Maha Pencipta.
 
Keberhasilan ini, karunia dari Allah Yang Maha Kuasa.
 
Kemudahan ini, buah atas sabar dan kerasnya upaya.
 
Hadiah bagi spora nan sederhana,
 
yang teramat ingin menyelamatkan dunia.