27/12/2022

Membelah diri

 

Berasa ingin membelah diri. Karena dalam waktu yang sama, harus menjalankan peran yang berbeda.

Ya, mengurusi perwakilan IQAS (termasuk zahdan) dalam mengikuti lomba, membantu membuat prakarya zahdan di kelas, serta menyiapkan stand pameran Taman Baca Mumtaza, dimana karya zahdan turut dipamerkan juga disana. 
 
Tentunya sangat-sangat menguras pikiran maupun tenaga. Run down ini, run down itu, bahan-bahan ini, kreasi-kreasi itu. 
 
Hingga ada saat dimana otak terasa berat. Begitu penat.. selaksa jam pasir yang tengah tersumbat. 
 
Membuatku tiba-tiba terlupa akan hal kecil dan sederhana, sampai mendadak terdiam di tengah jalan, bingung harus menuju ke arah mana.
 
Namun Alhamdulillah, semuanya sudah selesai dan terlewati. Untuk sesaat bisa selonjoran kaki sembari meminum kopi. Walaupun sesungguhnya masih ada satu-dua agenda lain di beberapa hari ke depan.
 
Ah, biarlah. Semoga Allah senantiasa memberi kita semua kemudahan.
Aamiin.. Allahuma Aamiin..
 

Perwakilan IQAS

Alhamdulillah, perwakilan IQAS sudah selesai mengikuti lomba tahfidz di Mustika. 
 
Lomba ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta se-kabupaten Garut. Dengan waktu lomba dari tgl 18 s/d 20 desember kemarin.
 
Jazakumullahu khairan katsiran ananda, pun ayah bunda atas perjuangan dan dukungannya. 
 
Tenang saja, nak. Menjadi juara bukanlah tujuan utama. Namun keberanian dan pengalaman, itu berkali lipat jauh lebih berharga.
 
Kalian hebat! Semoga Allah mencatat upaya kalian kemarin sebagai ibadah yang hebat pula. 
 
Khususnya bagi kalian dan keluarga, umumnya bagi IQAS dan semua kawan kita. 
 
Aamiin.. 
 

17/12/2022

Secarik Rindu

 

Secarik photo yang tampak biasa, namun tidak demikian bagi salah satu tokohnya.

Ya, aku tahu. Butuh banyak waktu untuk bisa memunculkan ekspresi semacam itu. 
Butuh berkali-kali terapi, butuh pendekatan berpuluh-puluh kali.
 
Dalam perjalanannya, ada fluktuasi emosi yang begitu menguras energi. 
Ada kekhawatiran atas kecemasan, pun ada setampuk kesedihan diatas kesabaran.
 
Tipis sekali.. 
Hampir-hampir saja harapan itu lepas dan terpatah. 
Hampir-hampir saja kita hendak menyerah. 
Memilih berbalik kembali dan mengaku kalah.
 
Tapi Alhamdulillah.. 
Sungguh, Alhamdulillah.. 
Karena sedikit demi sedikit, segalanya mulai berubah. 
Kau yang mati-matian berjuang, melepas jangkar masa lalu yang begitu mencengkeram.
 
Kau mungkin tak tahu, nak. Ada sematan hina di sepanjang perjalanan. 
Ada yang menyangsikan, dan ada lebih banyak lagi yang merendahkan. 
Yang kesemuanya itu melulu aku telan dan sembunyikan.
 
Maka, izinkan kali ini.. aku.. untuk yang entah ke berapa kalinya mengatakan,
'Kau bisa, Nak! Kau, pasti bisa! 
Kau adalah anak abi yang istimewa! 
Kau sungguh anak abi yang istimewa!'