25/01/2021

Paket Buku Muhammad Is My Hero

Sepagi itu, sepeda motor pengantar paket datang merapat. Di atas jok belakangnya, ada sebuah kotak besar yang terikat. 
 
Beberapa kali sang pengendara melihat alamat yang terpampang, hati-hati mencocokannya dengan nomor yang tertera di kotak. Aku yang saat itu tengah mengecat di atas tangga, hanya bisa melihat dari jarak sepelemparan batu.
 
"Rumahnya bapak Andi Wahyudin?" tanyanya.
 
"Bukan, pak. Disini mah rumah pak Adi Wahyudin" jawab istriku.
 
"Oh, ya? Tapi alamatnya cocok, bu! Sepertinya keliru mengetik nama saja" ucapnya.
 
"Memang pengirimnya dari siapa, pak?" istriku hendak meyakinkan.
 
"Dari, em.. Tigaraksa, bu" kata sang pengendara, membaca sekilas nama pengirim paket.
 
Istriku mengernyit sebentar, kemudian mengangguk mengerti. Dia memang tahu perihal hadiah sepaket buku, hasil lomba menulis yang diadakan
Tigaraksa Educational
.
"Paketnya berat, bu! Biar saya bawakan ke teras" ucapnya, berbaik hati.
Istriku kembali mengangguk, berterima kasih.
 
Mendengarnya, aku membisik kalimat hamdallah berulang-ulang. Kotak itu adalah paket buku yang sudah kutunggu-tunggu. Zhira kecil pasti akan suka dibacakan buku yang baru.
 
Berbeda dengan bisikku yang pelan, seorang anak berbaju jingga tiba-tiba berteriak lantang.
 
"Abii! ini paket isinya buku?" tanya Zahdan, antusias. "Boleh dibuka, gak?"
 
Aku tak menjawab, masih berkutat dengan kaleng cat dan kuas. Ah, aku ingin membukanya nanti-nanti. Seusai pekerjaan ini.
 
Zahdan ternyata tak menyerah, berlari ke luar, melempar tanya sekali lagi.
 
"Abi, paket itu isinya buku, ya? Boleh dibuka? Ya? Ya? Ya?" tanyanya.
 
Zahdan memang tipikal penanya aktif, tak akan berhenti hingga pertanyaannya terjawab pasti. Terus bertanya ini-itu, terkadang tentang beberapa hal di masa lalu, yang aku sendiri sudah lupa perihalnya.
 
Dan kali ini, demi melihat matanya yang mengerjap-ngerjap penuh harap, aku pun akhirnya mengangguk memperbolehkan.
 
"Tapi hati-hati, ya!" pesanku. "Jangan sampai bukunya rusak!"
 
Tak ayal, anggukanku sontak diikuti dengan teriakan, teramat girang dan penuh kemenangan.
 
"YEIY..! ASYIIK..!!"
 
Seketika, anak berponi tersebut melesat mengambil gunting. Berteriak pula memanggil kawan tetangga, yang tertangkap mata tengah bermain di luar rumah.
 
"Bikaa!! Abiin! Ini ada buku yang baru!" ucapnya, lantang.
 
Yang dipanggil berlarian mendekat, ikut penasaran dengan isi kotak.
 
Kemudian, potongan waktu berikutnya didominasi dengan aksi si anak berponi. Dia hati-hati menggunting perekat, terperangah membongkar kotak, serta bersemangat membacakan buku.
Ekspresinya begitu meyakinkan, dua pendengarnya pun serona terpukau.
 
Zahdan juga lah yang membereskannya di #TamanBacaMumtaza, menata setiap jilidnya dalam rak khusus berbentuk pohon. Rak yang memang sudah kusiapkan sejak hari pengumuman. Sebuah tempat spesial bagi buku-buku yang spesial.
 
Rencananya, di bagian atas rak tersebut akan dituliskan nama "Muhammad Is My Hero".
Mudah-mudahan, kalimat itu tak hanya menarik perhatian sesiapapun yang datang. Namun indah menghujam, dalam hati anak-anak penggenggam masa depan.

19/12/2020

Surat Cinta Untuk Rasulullah

Naskah yang diikutkan dalam lomba Menulis Surat Cinta Untuk Rasulullah SAW, yg diselenggarakan oleh Tigaraksa.

Dibacakan dengan hati oleh Kang Nugie. Indah sekali..

Linknya ada di https://youtu.be/sv8kO3z0RrQ tepatnya di durasi 5:13 menit.

Ah, biarkan gemuruh rasa ini kuhadiahkan untuk si kecil Zahdan. Karena anak itulah yang menjadi sumber ide dalam menulis surat ini.

Iya.. Zahdan yang mengidolakan Zubair bin Awwam, kerap berlari-lari ke mesjid untuk mengumandangkan adzan. Tak peduli panas maupun hujan, kaki kecilmu tetap saja riang kau langkahkan.

Tetaplah demikian, nak! Jadilah Zubair jaman sekarang.




 

11/12/2020

Ganbatte!

Maziya.. Anak itulah yang dulu membuat jemari ini nekat merangkai aksara. Menulis beberapa, kemudian lebih nekat lagi membukukannya. 
 
Tak muluk-muluk. Hanya hendak berharap suatu hari nanti, si anak pertama akan memahami, pahit manis episode yang pernah dilalui.
 
Mulai dari buku Ragam Cerita Bersama Ziya, dilanjut dengan menjadikannya sebagai seorang Putri bernama Mumtaza. 
 
Waktu terus berlalu, dan sifat Ziya tak pernah banyak berubah. Ia masih sering menyendiri, mengambil waktu seorang diri. 
 
Asyik sendiri menggambar manga, atau khusyu mengetik cerita.
 
Ziya tak pernah banyak bicara, apalagi jika tak ditanya. Sikap khas seorang anak introvert.
 
Orang lain menilainya 'dingin'. Aku menyebutnya, 'bijak dalam berkata'. 
 
Orang memvonisnya 'ga seru'. Aku justru menemukan keseruan itu dalam cerita buatannya.
 
Aku yakin, kelak Ia akan bisa lantang membagi rasa. 
 
Bukan dalam ucapan kata, melainkan dalam rentetan karya. 
 
Ganbatte Ziya chan!