02/04/2025

PesRam 2025

Spanduk pesram sudah dibentangkan. 
Beberapa anak yang melihat, tiba-tiba saja berteriak riang.
 
"Asyiik.. Pesram lagi!"
 
"PesRam..! PesRam..! Yeiyy"
 
Ah, andai kita seriang itu kala menyambut Ramadhan. 
Bukan malah menggerutu karena merasa kebebasannya akan terkekang.
 
Seharusnya kita juga menyambut riang.. 
Karena janji ampunan, 
sungguh berlimpah ruah di bulan Ramadhan.
 
Belum lagi pahala yang pasti dilipatgandakan. 
Setitik saja kebaikan, Insya Allah kan jadi seribu, 
jadi sejuta, bahkan sampai tak terhingga.
 
Membuat kita kelak terperangah dengan gembira.
 
"Asyiik.. Pahala lagi! Yeiyy"
 
"Yaa Allah.. Balasan pahala dari-Mu sebanyak ini?"
 

 

Ingin dijemput

Kelas anak-anak IQAS kemarin sore. Menenangkan rasanya, melihat masjid ramai lagi.
 
Ada Hoca, yang tatkala berjumpa.. langsung aktif bercerita. 
Tentang sekian lembar tugas menulisnya, 
tentang kegiatan selama liburannya, 
serta tentang buku-buku komik yang sudah dia baca.
 
Ada juga Chayra dan Arumi. 
Mereka yang biasa menyengaja datang pertama kali, 
membereskan semua meja, 
kemudian memilih tempat strategisnya sendiri.
 
Kalau Agnia, dia seorang feeling yang paling bisa dipercaya. 
Anak rajin yang pandai menjaga rahasia. 
Tipe yang ketika sekali berbicara, semua orang kan mendengarkan dengan seksama.
 
Sedangkan Quinta, dia yang setiap pulang, dijemput oleh ayahnya. 
Rumahnya memang tak disini. Butuh perjuangan lebih untuk datang kemari.
 
Mungkin ini sebabnya Zhira merajuk, 
membujuk-bujuk ingin dijemput. 
 
Aneh, padahal rumahnya kan dekat. Hanya berjarak sekian langkah.
 
"Please atuh Abi.. Please..!" kata Zhira, sembari memasang wajah memelas.
 
"Hmft.. Iyaa..iyaa.. Nanti ab jemput!" jawabku, menyerah.
 

 

Anak nakal?

Seorang bijak pernah berkata : 
Sejatinya, tidak ada anak yang nakal. 
Yang ada adalah, orang tua yang abai.
 
Ya, kita acapkali tak ambil peduli. 
Membangun dinding yang begitu tinggi. 
Anak diberi hp agar tak merecoki. 
Supaya tak ganggu kala kita bermedsos ria.
 
Bahkan, biarkan saja mereka sehari-hari diurus pembantu. 
Ke sekolah diantar gojek, urusan sholat diajar ustadz, perihal PR pun suruh saja tanya google atau chatgpt.
 
Maka tak heran, kita pergi pun gak ada acara dadah-dadah. 
Kita pulang, apalagi. 
Sekedar bertemu saja, ogah.
 
Kalau anak sedikit berulah, 
mendadak muncul sumpah serapah. 
 
Dibilang ganggu lah, bandel lah, nakal lah. 
Berbagai konotasi negatif kita labeli, 
justru pada darah daging sendiri.
 
Dan sesudah itu semua, kita masih mengaku-ngaku sebagai orang tua?
Serta meminta mereka mendo'akan kita dalam sholatnya?