29/11/2021

Jangan Pongah

Kau benar, nak. Sebanyak apapun bukumu, setinggi apapun ilmumu, dan sekuat apapun dirimu, adalah mustahil tanpa Allah sebagai penolongmu.

Maka jangan pernah kau angkat tinggi dagumu, nak.
Hatimu, apalagi.

Jangan kau anggap rendah mereka yang terlihat lemah!

Karena boleh jadi, bisik lisan mereka berkali lebih diijabah ketimbang jerit do'a kita.
Setetes keringat mereka bisa lebih mulia dibanding setampuk sedekah kita.
...

Kau betul, nak..
Setinggi apapun jabatanmu, semewah apapun kendaraanmu, semegah apapun rumah tinggalmu, adalah hina tanpa berkah Allah dalam hidupmu.

Maka jangan pernah kau surutkan taatmu, nak.
Sholatmu, apalagi.

Tak elok rasanya jika kau berlama-lama dalam mengejar dunia, namun kerap terburu-buru ketika tengah menghadapNya.

Ingin berlekas pergi, ingin beranjak kaki, ingin bersenang-senang lagi.

Ingat, nak..

Kita ini begitu rendah, sedangkan Allah Maha Tinggi.

Kita ini begitu kotor, sedangkan Allah Maha Suci.

Kita ini begitu bodoh, sedangkan Allah Maha Mengetahui.

Mengendalikan usia saja kita tak pernah bisa, lalu apa gunanya berpongah ria?
 

 

24/10/2021

Jalan Hidup

Ada masa, ketika kita dimudahkan didalam ujian.

Walau tertatih dan terseok, terbuang dan terbengkalai, 
kita tetap bisa melewatinya, bukan?
 
Sungguh, Allah tak pernah membiarkan kita berjalan sendirian.
...
 
Kemudian masa berganti, 
ketika dalam kemudahan kita diuji.
 
Apa dengannya dagu jadi terangkat tinggi? 
Apa jumawa jadi leluasa menguasai hati?
 
Sungguh, Allah tak pernah menyukai adanya kesombongan.
...
 
Lalu masa berganti..
 
Dimudahkan lagi..
 
Diuji lagi..
 
Dimudahkan berulang kali..
 
Segala kondisi tak akan lantas berubah menjadi abadi.
 
Ah, bukankah dunia ini sejatinya memang merupakan ujian?
 
Tempat fana dimana kita berusaha keras mencari bahagia. 
 
Tempat dimana sebagian manusia mengejar-ngejarnya dengan jalan kesenangan. 
Uang, harta, jabatan, segala yang sifatnya melalaikan dan melenakan.
 
Padahal, sebagian manusia lagi berhasil meraih bahagia, justru dengan jalan ketenangan.

19/10/2021

Berhenti

Berhenti!

Berhentilah ayah/bunda!

Kumohon, berhentilah terus memarahi dan menyalahkan ananda!
 
Anak-anak kita yang malas ketika disuruh shalat, 
 
atau mereka yang enggan ketika diminta berhijab.
 
Berhenti menyalahkan mereka!
 
Berhentilah sejenak, berdiam diri barang sesaat.
...
 
Ayah, Bunda.. Sesungguhnya anak-anak adalah peniru ulung, bukan? 
Mereka adalah cermin atas apa yang sehari-hari kita lakukan. 
Mereka belajar cepat dari lingkungan sekitar.
 
Baik atau buruk, bagus atau jelek, layak atau tidak layak, 
selalu ada dorongan besar untuk ikut-ikut meniru. 
Mereka sungguh butuh arahan dari orang dewasa, 
orang tua terutama.
 
Dan orang tua mereka adalah anda, para ayah, para bunda!
 
Orang tua mereka bukanlah google atau youtube, 
bukan pula instagram atau facebook. 
Orang tua mereka bukan tiktok, mobile legend, atau game-game online lainnya.
 
Menyerahkan peran orang tua pada dunia maya, 
ibarat meleburkan diri menjadi tak kasat mata. 
Wujud kita bak lenyap di mata mereka.
 
Maka, jangan heran ketika mereka tak menyahut lagi kala dipanggil. 
Tak menurut lagi ketika diminta.
 
Pun dengarlah redaksi kalimat yang meluncur dari mulut mereka, 
yakni, 'kata google juga...', 'kata facebook juga'. 
Yang mereka ucapkan dengan wajah yang bangga.
 
Bukan lagi 'kata ayah aku..'. 
Atau tak ada lagi.. 'kata ibu aku..'.
 
Lebih jauh, pantas saja jika mereka marah ketika gadgetnya disita. 
Mengamuk, berontak, 
karena kita seolah-olah tengah merampas orang tua mereka.
 
Padahal ketika kita yang pergi, mereka terlihat santai-santai saja.
 
Gembira malah..
...
 
Ayah, bunda, mari sejenak berhenti dan berintrospeksi. 
Perilaku buruk mereka, boleh jadi sebenarnya gegara kita.
 
Iya, gegara kelakuan kita. 
 
Kita yang menyebut diri sebagai orang tua.
 
Boleh jadi, semua karena doa kita yang sering sekali tergesa-gesa.
 
Lantaran istighfar kita yang kering dan tanpa rasa.
 
Karena taubat kita yang tanpa nasuha.
 
Atau karena ibadah kita yang masih saja terselip riya.
 
Astaghfirullaah...