26/04/2017

Sembilu Berwarna Biru

Alhamdulillah, telah terbit buku ketigaku. Ini adalah kali pertama Aku memberanikan diri menyusun sebuah kumpulan cerpen. Ia berisi 8 cerita pilu, sebagian berasal dari potongan-potongan hidup yang disusun menjadi satu rangkaian cerita. Sebagian lagi berasal dari kisah hidup teman, sahabat, atau saudara yang pernah berbagi kisah pilunya denganku. Apapaun itu, kisah-kisah ini bukan bertujuan untuk membuai kita dalam kesedihan, justru agar kita belajar lalu bangkit. Menjadikan kisah-kisah itu sebagai pijakan untuk naik ke anak tangga yang lebih tinggi lagi.
Berikut penampakannya..



ISBN: 978-602-371-407-0
Terbit: April 2017
Halaman : 194, BW : 192, Warna : 2
Deskripsi:
 
Ada begitu banyak sembilu yang menikam kalbu,
menelikung pilu, menggelepak sesak.
Sembiluku sempurna berwarna biru, menghantam hati bertubi-tubi,
mengoyak asa hingga binasa.
Bagaimana dengan sembilumu, Kawan?
Masihkah terasa begitu menyakitkan?
Hmm... Mereka yang berbahagia di taman-taman bunga sana,
tentu tak akan paham pada jubah kesetiaan yang mati-matian kita kenakan.
Mereka yang tertawa-tawa di belahan dunia sana,
tentu tak akan mengerti pada jeri yang berpayah-payah kita rasai.
Namun, buku ini peduli, terlahir dan hadir tuk menemani.
Kisah-kisah menyedihkan di dalamnya seolah berperi,
"Kalian tak pernah sendiri."

"Ini bukan sekadar kumpulan cerita, ini adalah cermin hidup; cermin yang berjalan."
(Dwi Suwiknyo, penulis buku Ubah Lelah Jadi Lillah) 
 
"Membaca sembilu dalam buku ini, membuat kita teringat cerita lama yang sudah dikubur dalam-dalam, tetapi dibangkitkan kembali dengan cara yang berbeda." (Tina Andriyani Rabbaniah, Educational Product Consultant) 
Bagi yang berminat, silahkan hubungi Penulis, atau klik link berikut ini :
http://www.leutikaprio.com/produk/11027/kumpulan_cerpen/17041487/sembilu_berwarna_biru/14126527/adi_wahyudin

26/02/2017

Kado buat Abi

Jum'at, rajanya hari. Aku berangkat menjemput Ziya dari sekolah seperti biasa. Dan seperti biasa pula, jalanan dipadati begitu banyak kendaraan. Serobot kiri, serobot kanan, mentok, lalu bikin macet.. Huft.. Inilah jika semua orang ingin didahulukan, seolah kepentingannya adalah yang terpenting dari segala hal yg paling genting. Apa sih? Jemput anak? Semua disini juga hendak menjemput anaknya kawan.. Takut telat Jum'atan? Semua disini juga tak mau telat Jum'atan. Tak perlulah terlalu berlebihan. Sabarlah barang sedikit saja. 

Diluar kelas, ada yang terasa janggal. Anak-anak kelas 3 yang sudah keluar kelas, melihatiku sembari tersenyum-senyum. Kenapa ya? Apa sekarang ini hari tersenyum sedunia? Biasanya juga anak-anak ini datar-datar saja. Kadang menghalangi jalan tanpa peduli. Tak acuh meski sudah berulang dikatai permisi. Entah, hari ini mereka terlihat berbeda.

Dan kejanggalan itu terjawab ketika seorang anak lugas berkata, "Ziyanya masih di kelas, sedang bungkus kado, katanya buat ayahnya yang ulang tahun" ucapnya, sambil mesem-mesem. Aku menepuk jidat, Oalaah..jadi ini toh sebabnya. Ziya..ziya.. Jangan-jangan kau memberitahu hari ulang tahunku ini pada semua teman-teman kelasmu.

Tak lama, Ziya tergopoh-gopoh keluar dari kelas. Membawa kantong keresek yang lalu ia berikan padaku, "ini hadiah ulang tahun buat Abi" ucapnya. Aku mengangguk berterima kasih, sembari mengelus kepalanya lembut. Teman-temannya melihati kami sembari tersenyum. Tak acuh, aku lebih menelisik isi kantong keresek. Penasaran dengan apa yang Ia hadiahkan. Didalamnya terlihat sebuah buku tulis, sebuah bolpoin, dan kertas kado yang digulung belum rapih. Sepertinya Ziya membelinya dengan uang jajannya sendiri hari ini. Dan sepertinya Ia belum sempat membungkusnya. "Ini buat Abi nulis cerita atau novel" ujarnya. Aku menahan haru, membaca secarik kertas bertuliskan selamat.

Sayang, Ia tak tahu. Tulisanku tak bagus sedari dulu, membuatku lebih memilih mengetik saja. Percuma soalnya, khawatir nanti malah tak terbaca. Atau malah bikin sakit mata. Apapun itu, terima kasih Ziya.. Kau memang anak Abi yg hebat.

Besoknya, Ziya memegang bolpoin, hendak menulis tampaknya. Ia mengacak-acak buku, mencari buku yang masih bisa ditulisi. Ringan Aku berkata, "Ziya lagi nyari buku tulis?" tanyaku. Ziya mengangguk, "iya, yang punya Ziya ada dimana ya Abi? Biasanya kan di laci. Tapi ga ada" katanya, masih sibuk mencari. Aku tersenyum, "kan masih ada buku Abi yang dari Ziya kemarin. Kalau mau, Ziya pakai saja dulu. Abi mah nulisnya bisa di laptop" kataku. Ziya menoleh, wajahnya sumringah. Lebih sumringah lagi setelah buku tulis itu ada di tangannya. Lalu tenggelam menulisinya. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Menahan tawa. 

28/01/2017

Izinkan Kami Menikah

Aneh memang.. Aku melebam pilu karenamu, dan kau justru terluka olehnya. 
Seolah cinta tak pernah bermakna,  melainkan berisi duri semata. 
Membuat kita terseok dan terlunta, lalu terhempas di curam tebingnya. 
Kita tergores di kanan kiri, berdarah di sana sini. 
Merasakan pedih.. 
Dan begitu bersedih.

Aneh memang.. Aku terisak pilu olehmu, dan kau sesak justru karena merinduinya. 
Seolah cinta masih tak jua bermakna, melainkan hanya panas api yg mengelilinginya. 
Kita tercakar dan terbakar,  menghitam lalu melegam, menyeret kaki tuk berusaha lewati. 
Hingga hati merasa nyeri. 
Dan kita.. 
Urung berjalan lagi..

Tidak.. tak boleh ada ucap menyerah. 
Sedalam apa luka didalam dada, 
sepanjang apa jeri didalam hati, 
tetaplah kita bergerak langkahkan kaki. 
Karena janji-janji bahagia, di ujung sana terukir indah. 
Cawan-cawan dahaga, terhidang disana hapuskan lelah. 

Tak boleh ada ucap menyerah. 
Boleh terisak, namun tetaplah merangkak. 
Boleh kecewa, namun pantanglah berputus asa. 
Songsong janji-janji bahagia itu. 
Wujudkan mimpi-mimpi indah itu. 
Dan belajarlah dari kisah-kisah itu. 
Tentu saja, kisah-kisah terindah.. 
dalam buku "Ya Allah Izinkan Kami Menikah"