02/04/2025

Syeikh Waseem

Kunjungan Syeikh Waseem ke PesRam Istana Quran. 
Seorang yang humble, 
Ramah, Interaktif, 
dan luar biasa meninggalkan kesan. 
Beliau tak sungkan menyapa anak-anak yang berebut mencium tangan.
 
Sebagian bahkan ada yang meminta tanda tangan Syeikh. 
Di atas secarik kertas, 
di syal identitas, 
hingga di kaos bola mereka. 
Syeikh Waseem melayani mereka satu per satu, 
dengan senyum yang selalu terkembang. 
 
Tak lupa mengelus kepala anak-anak dengan berkata, 'siapa namamu?" ucapnya, fasih.
 
Ketika bertausiyah, beliau dengan merdunya melantunkan ayat Al Quran. 
Merinding mendengarnya. 
Seakan bumi dan udara ikut berhenti, 
lalu beresonansi dengan alunan ayatnya.
 
Bertambah merinding, tatkala aku dipanggil untuk berjabat tangan. 
Kemudian tanpa sungkan, Beliau menghormati dan memuliakanku sedemikian rupa. 
 
Ekh.. Aku yang miskin ilmu dan miskin hafalan ini, 
yang berlumur dosa dan kotor ini, 
diperlakukan Syeikh dengan lembut selayaknya saudara sendiri. 
Beliau bahkan tersenyum sambil mendo'akanku berkali-kali.
 
Ah, siapa yang tak akan gemetar mendengarnya.. 
Siapa yang tak akan haru di ujung matanya. 
Aku yang sudah bertahun-tahun tak bisa menangis, 
tetiba saja berderai habis.
 
Bertemu penerusnya saja sudah sebahagia ini, 
apalagi bertemu dengan Baginda Rasulnya.. 
Apalagi bertemu dengan Yang Maha Menciptakannya..
 
Jazakallahu khairan katsir, Syeikh. 
Your Kindness is very meaningfull for us. 
Deeply for me. 
 

Zahdan dan Azhad

Satu.. dua.. Tidak! 
Sudah Tiga tahun lebih aku menunggu momen spesial ini. 
Berusaha mempertemukan Zahdan dengan Azhad, 
anak-anak dari dua orang sahabat dekat, Dwi dan Whindy.
 
Sungguh tak pernah disangka, 
ternyata kami telah menamai mereka dengan nama yang serupa. 
Seolah takdir hendak mengikat kembali, 
melanjutkan persahabatan ke beda generasi.
 
Ya, Zahdan dan Azhad. 
Yang satu penyuka pengetahuan, 
satu lagi penghafal kitab Al Qur'an. 
Dua anak yang harap pada namanya selalu tersemat.
 
Jadilah orang yang Zuhud, anak-anak. 
 

 

Buku baru

Alhamdulillah, buku yang ditunggu-tunggu akhirnya datang bertamu. 
Antologi yang kelasnya pernah Zahdan ikuti, beberapa bulan yang lalu.
 
Zahdan sendiri yang mencari referensi dari buku-buku ensiklopedi. 
Lalu berupaya menuangkan buah pikirannya kedalam kata dan untaian cerita.
 
Butuh waktu, memang. 
Mengingat Zahdan bukanlah pengguna otak kanan. 
Namun sepertinya, anak yang suka nimbrung ini tetap berusaha keras berimajinasi, 
berkutat berkali-kali. Diberi masukan belasan kali.
 
Anyway, Good job, Zahdan!
Mabruk..!
 
Bukunya boleh langsung kau pajang di pojok karya.

PesRam 2025

Spanduk pesram sudah dibentangkan. 
Beberapa anak yang melihat, tiba-tiba saja berteriak riang.
 
"Asyiik.. Pesram lagi!"
 
"PesRam..! PesRam..! Yeiyy"
 
Ah, andai kita seriang itu kala menyambut Ramadhan. 
Bukan malah menggerutu karena merasa kebebasannya akan terkekang.
 
Seharusnya kita juga menyambut riang.. 
Karena janji ampunan, 
sungguh berlimpah ruah di bulan Ramadhan.
 
Belum lagi pahala yang pasti dilipatgandakan. 
Setitik saja kebaikan, Insya Allah kan jadi seribu, 
jadi sejuta, bahkan sampai tak terhingga.
 
Membuat kita kelak terperangah dengan gembira.
 
"Asyiik.. Pahala lagi! Yeiyy"
 
"Yaa Allah.. Balasan pahala dari-Mu sebanyak ini?"
 

 

Ingin dijemput

Kelas anak-anak IQAS kemarin sore. Menenangkan rasanya, melihat masjid ramai lagi.
 
Ada Hoca, yang tatkala berjumpa.. langsung aktif bercerita. 
Tentang sekian lembar tugas menulisnya, 
tentang kegiatan selama liburannya, 
serta tentang buku-buku komik yang sudah dia baca.
 
Ada juga Chayra dan Arumi. 
Mereka yang biasa menyengaja datang pertama kali, 
membereskan semua meja, 
kemudian memilih tempat strategisnya sendiri.
 
Kalau Agnia, dia seorang feeling yang paling bisa dipercaya. 
Anak rajin yang pandai menjaga rahasia. 
Tipe yang ketika sekali berbicara, semua orang kan mendengarkan dengan seksama.
 
Sedangkan Quinta, dia yang setiap pulang, dijemput oleh ayahnya. 
Rumahnya memang tak disini. Butuh perjuangan lebih untuk datang kemari.
 
Mungkin ini sebabnya Zhira merajuk, 
membujuk-bujuk ingin dijemput. 
 
Aneh, padahal rumahnya kan dekat. Hanya berjarak sekian langkah.
 
"Please atuh Abi.. Please..!" kata Zhira, sembari memasang wajah memelas.
 
"Hmft.. Iyaa..iyaa.. Nanti ab jemput!" jawabku, menyerah.
 

 

Anak nakal?

Seorang bijak pernah berkata : 
Sejatinya, tidak ada anak yang nakal. 
Yang ada adalah, orang tua yang abai.
 
Ya, kita acapkali tak ambil peduli. 
Membangun dinding yang begitu tinggi. 
Anak diberi hp agar tak merecoki. 
Supaya tak ganggu kala kita bermedsos ria.
 
Bahkan, biarkan saja mereka sehari-hari diurus pembantu. 
Ke sekolah diantar gojek, urusan sholat diajar ustadz, perihal PR pun suruh saja tanya google atau chatgpt.
 
Maka tak heran, kita pergi pun gak ada acara dadah-dadah. 
Kita pulang, apalagi. 
Sekedar bertemu saja, ogah.
 
Kalau anak sedikit berulah, 
mendadak muncul sumpah serapah. 
 
Dibilang ganggu lah, bandel lah, nakal lah. 
Berbagai konotasi negatif kita labeli, 
justru pada darah daging sendiri.
 
Dan sesudah itu semua, kita masih mengaku-ngaku sebagai orang tua?
Serta meminta mereka mendo'akan kita dalam sholatnya?